as

as

Sabtu, 28 Juli 2012

Engkau Lupa Untuk Menikah




Surat kabar Mesir, al-Ahram (Surat kabar edisi tanggal 29 Mei 1961, Islamuna, Sayyid Sabiq, hlm. 210), mengangkat sebuah berita yang berjudul, “Para Dosen di Perguruan Tinggi Menyarankan Para Mahasiswi untuk Segera Menikah.” Berita tersebut menyebutkan bahwa pada minggu itu, seorang dosen wanita di sebuah perguruan tinggi di Inggris berdiri di depan ratusan para mahasiswa untuk menyampaikan pesan terakhir  dalam rangka pengunduran dirinya dalam praktik belajar mengajar.
Dosen wanita itu berkata, “Inilah diri saya yang telah mencapai usia enampuluh tahun. Dalam usia ini, saya telah mencapai tingkat yang paling tinggi. Saya selalu sukses. Jabatan saya selalu naik setiap tahun. Saya pun telah memberikan andil besar dalam masyarakat. Setiap detik hari-hari saya, telah mendatangkan keuntungan untuk diri saya. Saya telah mendapatkan populariatas dan materi yang sangat banyak. Saya telah mendapatkan kesempatan untuk berkeliling ke seluruh dunia. Tetapi sekarang, apakah saya bahagia setelah mendapatkan seluruh kesuksesan itu?
Kesibukan saya dalam mengajar, keliling dunia, dan mencari popularitas, telah membuat saya lupa sebagai seorang wanita, untuk melakukan hal yang lebih penting dari semua itu.
Saya lupa untuk menikah, mempunyai anak, dan menikmati kehidupan dengan tenang.
Saya sama sekali tidak ingat itu semua, kecuali ketika saya hendak mengajukan permohonan pengunduran diri saya. Saat ini, saya merasa belum melakukan sesuatu apa pun dalam hidup. Saya juga merasa bahwa seluruh usaha yang telah saya lakukan selama ini telah lenyap dengan sia-sia. Saya akan mengundurkan diri, lalu setelah setahun atau dua tahun dari pengunduran diri saya ini, semua orang akan melupakan saya dengan kesibukan mereka masing-masing. Akan tetapi, jika saya menikah dan membangun keluarga yang besar, maka saya akan meninggalkan kesan yang indah dan melakukan suatu kebaikan dalam hidup ini.
Tugas seorang wanita adalah menikah dan membentuk suatu keluarga. Selain dari hal itu, usaha apapun yang dia lakukan tidak akan mempunyai  nilai sedikitpun bagi kehidupannya. Saya ingin berpesan kepada seluruh mahasiswi, agar meletakkan persoalan ini pada point nomor satu. Setelah itu, barulah dia memikirkan pekerjaan dan popularitas.”
Orang-orang it hanya menghabiskan umur mereka dan tidak menyadari makna kehidupan sebenarnya, kecuali setelah mereka memasuki usia senja. Lebih aneh lagi adalah para wanita muslimah yang mengikuti cara hidup mereka yang semrawut tanpa berlandaskan petunjuk yang benar. Alloh SWT telah menunjukkan dan menerangkan kepada kita jalan kebenaran itu. Beruntunglah orang  yang dapat mengambil pelajaran dari ornag lain. Maka, hendak kemanakah kalian, wahai wanita muslimah?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar